Oleh: Tarsoen Waryono **)
Abstrak
Kawasan-kawasan konservasi dan perlindungan alam pada hutan hujan tropis Indonesia, merupakan sumber biodiversitas yang dapat dijadikan Obyek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA). Selain berada di hamparan medan punggung gunung, dataran, juga pada lokasi-lokasi lembah dan jurang, maupun kepulauan yang menarik secara alami serta cukup memberikan tantangan besar terhadap wisatawan. Potensi Nusakambangan yang menarik sebagai daerah tujuan wisata antara lain: (a) penelusuran lansekap, (b) penelusuran potensi biodiversitas, (c) penelusuran gua kapur, dan (d) menikmati pandangan rumah penjara yang sudah lebih dari 300 tahun.
PENDAHULUAN
Arah pengembangan Sektor Parawisata di Indonesia, telah digariskan sejak tahun 1988, yaitu melalui ketetapan MPR RI No. 11/MPR/1988. Dalam ketetapan tersebut tersirat bahwa arah pembangunan Kepariwisataan Indonesia, dilanjutkan dan ditingkatkan melalui pengembangan dengan mendayagunakan sumber dan potensi kepariwisataan nasional, menjadi kegiatan ekonomi terandalkan, sebagai sumber penerimaan devisa, memperluas dan pemerataan kesempatan kerja dan berusaha, terutama bagi masyarakat setempat, guna mendorong pembangunan daerah serta memperkenalkan alam, nilai dan budaya bangsa yang memiliki nilai besar sejarah.
Pengembangan Sektor Kepariwisataan pada dasarnya berupaya agar sumberdaya yang diandalkan sebagai obyek alam dan lingkungan, untuk tetap terjaga dan terpelihara, termasuk tatanan pengenalan kepribadian luhur masyarakat di sekitarnya. Dua dekade terakhir ini, pembangunan pariwisata Nusantara maupun manca negara terus meningkat, sejalan dengan tumbuh berkembangnya ilmu pengetahuan, serta memacu kecenderungan dari berbagai kelompok wisatawan yang menginginkan untuk berkunjung pada obyek yang berbeda-beda.
Fenomena tersebut tampaknya senada dengan prediksi terhadap daerah tujuan wisata dekade tahun 2015 mendatang yang dicanangkan oleh Pemerintah Pusat. Dalam prediksi tersebut menunjukkan bahwa obyek daya tarik kunjungan wisata terfokus terhadap potensi sumberdaya alam tetumbuhan (hutan), perairan (danau dan pesisir), dan obyek budaya kemasyarakatan. Salah satu potensi dari sumberdaya alam hutan teradalkan adalah kawasan-kawasan konservasi dan perlindungan alam. Selain memiliki karakteristik wilayah yang spesifik, juga memiliki potensi biodiversitas yang cukup besar dan beraneka ragam, hingga dapat memenuhi harapan keinginan wisatawan yang akan berkunjung.
*). Seminar Nasional Sumberdaya Hutan Dalam Perencanaan Daerah Tujuan Wisata Alam. Perwakilan Provinsi Jawa Tengah TMII, Jakarta, 23 Oktober 2010.
**). Staf Pengajar Departemen Georafi FMIPA Universitas Indonesia.
Pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata alam di Indonesia pada hakekatnya telah dirancang pada dekade tahun 2000-an, karena bertujuan untuk penyelamatan, pelestarian dan pemanfaatan secara optimal. Pemanfaatan tersebut ditujukan untuk memenuhi kepentingan baik lokal/regional, nasional maupun internasional, sebagai sumber kehidupan dan ilmu pengetahuan. Agar pemanfaatan dapat dilakukan secara optimal, kaidah terhadap keseimbangan antara nilai-nilai ekonomi dan ekosistemnya tetap terjaga, dengan memperhatikan akan kebutuhan generasi masa kini dan mendatang.
Adapun alasan mendasar yang rasional terhadap pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata alam hutan hujan tropis kawasan-kawasan konservasi dan perlindungan alam, antara lain mencakup hal-hal sebagai berikut :
(a). Indonesia merupakan negara Megadiversity ke-2 terbesar di Dunia setelah Brasil, selain memiliki keragaman jenis, ekosistem, dan genetik hutan hujan tropis, juga dikenal sebagai paru-paru dunia keterkaitannya dengan sumber oksigen alam.
(b). Kawasan-kawasan konservasi dan perlindungan alam pada hutan hujan tropis Indonesia, merupakan sumber biodiversitas yang dapat dijadikan Obyek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA). Selain berada di hamparan medan punggung gunung, dataran, juga pada lokasi-lokasi lembah dan jurang, maupun kepulauan yang menarik secara alami serta cukup memberikan tantangan besar terhadap wisatawan.
(c). Kekayaan Indonesia sebagai negara Megadiversity antara lain memiliki potensi: (a) tumbuhan tropis 27.500 jenis, dan 10% di antaranya merupakan tumbuhan berbunga, (b) 515 jenis satwa liar dan 12% di antaranya merupakan binatang menyusui, (c) 1.539 jenis unggas, dan 17% di antaranya merupakan kelompok jenis burung, (d) 500-600 jenis yang tercatat mamalia besar, tercatat 36% endemik, (e) 40 jenis primata, tercatat 25% endemik, (f) 78 jenis burung paruh bengkok, tercatat 40% endemik, dan (g) 121 jenis kupu-kupu, tercatat 44 % endemik.
Pemanfaatan jasa lingkungan sebagai salah satu obyek wisata alam, kini belum secara optimal dimanfaatkan. Padahal selain mampu meningkatkan mutu ekosistem dan sumberdaya alam di dalamnya, juga meningkatkan mutu kehidupan dan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Kedua target tersebut, pada dasarnya belum seiring dan sejalan dengan Rencana Strategi Jangka Panjang Departemen Kehutanan yang difokuskan terhadap: (a) pemberdayaan daerah tujuan wisata alam berbasis konservasi dan peningkatan jumlah penerimaan (devisa), maupun, (b) mampu mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan, dan (c) peningkatan dunia pengetahuan alam keterkaitannya dengan aspek biologi, ekologi dan hidrologi.
Beberapa pakar ekonomi kehutanan, menyebutkan bahwa prospek pengusahaan pariwisata alam dan jasa lingkungan di Indonesia, sangat menjanjikan sebagai salah satu sumber pendapatan negara, masyarakat dan pengusaha di daerah. Disamping itu, pemanfaatan jasa lingkungan juga memberikan kesempatan berbagai pihak untuk terlibat dalam mekanisme pelaksanaan kegiatan.
Mencermati atas (a) potensi sumberdaya alam kawasan-kawasan konservasi dan perlindungan alam, (b) Rencana Strategi Jangka Panjang pemanfaatan sumberdaya alam (hutan) melalui Departemen Kehutanan, dan (c) peluang dan kesempatan bagi stakeholder untuk terlibat dalam pelaksanaan, serta (d) pentingnya alam sebagai sumber ilmu pengetahuan. Dari ke-4 fenomena tersebut tampaknya seiring dan sejalan dengan apa yang telah digagas oleh Putra Daerah Kabupaten Cilacap melalui slogannya ”Save Our Nusakambangan Island”. Dari slogan tersebut terlontar bahwa kembalikan alam Nusakambangan, dan hentikan kegiatan-kegiatan yang menyebabkan malapetaka terhadap pulau tersebut.
Pemahaman dari lontaran slogan tersebut, pada dasarnya ingin memanfaatan potensi alam Nusakambangan di Kabupaten Cilacap, dalam bentuk pemanfaatan jasa lingkungan sebagai Wahana Wisata Alam (WWA). Pemanfaatan jasa lingkungan alam dimaksud, pada dasarnya merupakan bagian pemanfaatan potensi sumberdaya alam biodiversitas dan lingkungan fisik wilayahnya, tanpa menimbulkan malapetaka terhadap alam itu sendiri. Atas dasar itulah gagasan yang tertuang dalam tulisan ini, ingin mencoba untuk menelaah sejauhmana upaya memperdayakan potensi Nusakambangan sebagai WWA. Urgensi gagasan tersebut, antara lain mencakup hal-hal sebagai berikut:
(a). Nusakambangan memiliki artikulasi Nusa = batu; kambangan = ngambang/apung, artinya bahwa pulau batu karang sangat mungkinan akan berubah menjadi batu apung apabila tatanan geologinya terdegradasi. Makna tersebut memberikan gambaran betapa sangat rentannya pulau karang akibat gangguang alam maupun aktivitas manusia yang pada akhirnya menyebabkan gangguan terhadap ekosistem pulau yang memiliki 85% batuan kapur.
(b). Pulau Nusakambangan memiliki peranan alam sebagai benteng alam daratan Cilacap dari ancaman badai laut dan atau stunami.
(c). Pulau Nusakambangan merupakan satu-satunya sisa kawasan hutan hujan tropis dataran rendah Jawa Tengah, memiliki potensi sebagai sumber pengetahuan alam (botanis) untuk penelusuran dinamika hutan tropik, taksonomi dan biologi tumbuhan, karena keunikan vegetasi dan floranya.
(d). Secara spesifik Pulau Nusakambangan memiliki sumberdaya alam abiotik seperti gua dan pantai pasir putih. Di sisi lain Nusakambangan juga merupakan pusat pembinaan para perantaian (narapidana),
(e). Pemanfaatan Pulau Nusakambangan sejak penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, dan kini Republik, hanya diperankan sebagai wahana pengasingan narapidana (perantaian). Namun kini telah saatnya untuk dikembangkan sebagai WWA, karena alamnya yang sangat memenuhi persyaratan sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW). Agar dalam implementasinya tidak bertentangan dengan rambu dan kaidah konservasi sumberdaya alam, untuk itu kehati-hatian dalam pelaksanaannya menjadi tatanan prioritas utama yang harus dilakukan.
POTENSI FISIK WILAYAH PULAU NUSAKAMBANGAN
2.1. Letak dan Luas
Secara definitif Pulau Nusakambangan ± 11.500 ha, masuk ke dalam wilayah administrasi pemerintahan Kelurahan Tambakreja, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap. Berdasarkan tata letak astronomisnya berada pada 110034’ LS dan 133047’30’ BT.
Pulau Nusakambangan berada di pantai selatan Jawa, membentang memanjang dari arah timur (Pulau Karang Bolong) dengan Pulau Majeti (Kembang Wijaya Kesuma), menyusur ke arah barat hingga di muara S. Citanduy yang masuk ke dalam Provinsi Jawa Barat (Pengandaran).
Nusakambangan selain memiliki peranan fungsi sebagai benteng alam daratan Cilacap, dari bandai dan gelombang laut bebas, juga merupakan buffer Segara Anakan (Laguna) Cilacap, serta merupakan pelindung Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap yang memiliki potensi strategis secara Nasional dalam kancah perdangan maupun pertahanan negara RI lintas Selatan.
2.2. Konfigurasi Lapang
Bentang alam Nusakambangan merupakan perbukitan kecil, dengan ketinggian tempat mulai dari 0 meter dpl hingga ketinggian 73,6 meter dpl. Bentuk medanya 78% ber- gelombang ringan, 13% da- taran rendah dan 9% sisanya merupakan hamparan lahan basah. Di bagian selatan, timur dan barat merupakan formasi pantai berbukit, sedangkan di bagian utara berbatasan langsung dengan formasi mangrove dari batas timur hingga pengandaran.
2.3. Geologi dan Tanah
Berdasarkan sejarah geologi, Pulau Nusakambangan terdiri dari formasi geologi batuan Breksi, Fragmen batuan beku dan oksida besi, batugamping, dolomitan, dan batuan lempung pada ke dalaman 30 meter, dan di bagian atasnya merupakan lapisan pasir-breksi volkanik yang merupakan pertemuan lempeng volkanik tua Jawa Barat dan Batuan kapur Gombong Selatan Jawa Tengah.
2.4. Iklim dan Hidrologi
Berdasarkan data hujan yang bersumber dari stasiun Meteorologi Cilacap, Pulau Nusakambangan memiliki curah hujan relatif rendah yaitu 1.687 mm/tahun, dengan hari hujan antara 110 dan 135 hari hujan/tahun. Data 10 tahunan menun-jukkan bahwa hujan ter-tinggi tercatat pada bulan Januari, yaitu 266 mm/ bulan dan paling rendah jatuh pada bulan Agustus, yaitu 3 mm/bulan. Berdasarkan perhitu- ngan data evapotranspirasi ter- catat berkisar antara 41 dan 51 mm/bulan.
Dari data tersebut, bahwa P. Nusakambangan defisit air mulai dari bulan Mei sampai dengan bulan Agustus setiap tahunya.
2.5. Penggunaan Tanah
Paling tidak tercatat ada 7 penggunaan tanah di Pulau Nusakambangan, yaitu:
Lahan hamparan hutan 66,02% (7.592,3 ha),
hutan sekunder 19% (2.185 ha),
lahan basah 7,0% (805 ha),
kebun karet 5% (575 ha),
formasi pantai 1,9% (218,5 ha), lahan kosong 0,76% (87,4 ha), dan penggunaan lain-lain 0,32% (36,80 ha).
Selain kekayaan jenis tetumbuhan hutan pamah dan formasi pantai dijumpai pula jenis-jenis flora seperti: ular (sanca, kobra, dan ular koros), kadal besar (biawak), monyet ekor panjang dan lutung, kancil, landak babi hutan dan harimau dahan. Jenis burung yang sering dijumpai adalah rangkok dan elang (ulung), gagak dan dukjali.
Hutan di Nusakambangan merupakan sisa hutan hujan tropis di Jawa Tengah yang masih tersisa. Tercatat paling sedikit memiliki 767 spesies tumbuhan (Angiospermae) yang terdiri dari 287 marga dan 97 suku.
Sedikitnya 34 spesies diketahui sebagai catatan baru untuk Flora Jawa. Tercatat ada 70 spesies burung, 35 spesies mamalia dan primata, 25 spesies ikan, 107 spesies kupu-kupu (meliputi 28% spesies Jawa) hidup di Nusa kambangan. Penelusuran lapang mencatat paling tidak ada 7 tipe vegetasi yang dijumpai di Nusakambangan.
Jenis tumbuhan menarik adalah teridentifikasinya 12 jenis rotan yang sebagian mampu tumbuh pada tanah berkapur. Jenis-jenis yang tergolong langka, dilindungi dan endemik tumbuh secara alami di Nusakambangan antata lain meliputi: pelahlar, bunga patma, cengal, damar
matakucing, bunga patma, bunga bangkai, wijayakusuma, julang, linggua, dewandaru. Demikian halnya dengan potensial sumber plasmanutfah seperti kepel, matoa, kapulaga, dan manggis hutan.
Selain hutan pamah di daratan Nusakambangan, juga dijumpai formasi mangrove yang berbata-san dengan laguna Segara Anakan. Jenis yang dijumpai tercatat 36 jenis mangrove. Jenis yang mendominansi di formasi tersebut antara lain Rhizophora, Bruguiera, Ceriops dan Candelia, sedangkan tumbuhan bawah yang dijumpai meliputi jenis Wrakas dan Gradelan yang bercampur dengan nipah (Nypha frutican).
2.6. Kehidupan Masyarakat Perantaian (Narapidana)
Seperti uraian terdahulu bahwa Pulau Nusakambangan sejak kolonial Belanda, pendudukan Jepang hingga saat sekarang (Republik) dimanfaatkan sebagai wahana pembinaan narapidana (perantaian). Berdasarkan tatanannya penghuni perantaian terdiri dari 4 tatanan yaitu:
(e). Narapidana yang dikurung dalam sel tahanan seperti halnya dalam rumah penjara lainnya. Mereka umumnya adalah pendatang baru yang harus mematuhan peraturan yang ditetapkan.
(b). Narapidana yang dipekerjakan dengan pengawalan ketat oleh pengawasan pada kebun karet, dan atau kebun kelapa
(c). Narapidana yang dilepas, pagi dan sore melapor (absen).
(d). Narapidana yang dilepas tidur di hutan dengan membuat pondok kerja.
2.7. Ancaman Degradasi Pulau
Berbagai ancaman degradasi pulau, selain abrasi air laut di pantai bagian selatan, juga faktor penyebab lainnya. Pencurian kayu (ilegal logging) yang dilakukan oleh masyarakat menyebabkan rusaknya hutan pamah.
Kayu-kayu yang ditebang selain dari jenis kayu yang terapung (floater) yang meliputi damar mata kucing dan bayur, juga jenis kayu tenggelam (sinkers), seperti laban, wangkal, matoa dan beberapa jenis lainnya. Pencurian kayu umumnya dibawa ke Jawa Barat (Kalipucang), dan ke Cilacap (Karangtalun, Kaliyasa, Karangsuci, dan Tritih).
Ancama lain yaitu pembukaan kebun yang dilakukan oleh Narapidana. Walaupun ada izin dari pengawas, akan tetapi mereka tidak memahami bahwa pebalakan hutan dapat menyebabkan degradasi terhadap tanah.
Tumbuhan hutan ditebas, dan dibiarkan selama 1-2 bulan, untuk kemudia dibakar. Pada saat awal musim hujan ditanami padi dan sayur. Tahun berikutnya mulai ditanam dengan jenis palawija dan sayur, serta mulai ditanam dengan tanaman keras Jeruk atau jenia lainnya.
Ancaman lain adalah pemanfaatan batu kapur sebagai sumber bahan baku semen di Cilacap. Konsesi penambangan batu kapur ini telah menmgalami perpanjangan dan kini tahun 2010 pada tahap yang kedua.
Perusahaan pemanfaat galian batu kapur di Pulau Nusakam- bangan, PT. Holcim Ind. Tbk telah mengantongi SIPD Gubernur Jateng No. 540/ 11/2006 tgl 20 Mar 2006. Dalam penetapan tersebut, diizinkan menambang seluas 1.000 ha,
untuk jangka waktu pengusahaan 18 tahun, atau sampai dengan tahun 2023 mendatang. Salah satu kewajiban yang harus dilakukan adalah pemulihan lahan pasca tambang dengan jenis-jenis asli yang tumbuh secara alami di Nusakambangan.
PULAU NUSAKAMBANGAN SEBAGAI BENTENG DARATAN CILACAP
Stunami yang terjadi di Cilacap 17 Juli 2006 tampaknya membuktikan peran Pulau Nusakambangan sebagai benteng daratan kota Cilacap. Gempa dengan kekuatan lebih dari 5 SR saat itu terjadi dua kali dan memiliki pusat gempa dan ke dalaman berbeda.
Kejadian pertama jam
15.35 WIB (5,5 SR), pusat gempa pada posisi geografis 9035’ LS dan 108028’ BT, dan terjadi pada ke dalaman 46 km di bawah permukaan laut (dpl).
Gempa susulan terjadi 5 menit kemudian, pada posisi geografis berbeda, yaitu: pada 10032’ LS dan 1080 BT, dengan kekuatan 5,1 SR pada ke dalaman 33 km. Pada saat kejadian gempa di sebelah barat Pulau Nusakambangan yaitu: pantai Pengandaran, tinggi gelombang di daratan tercatat lebih dari 20 meter, menyapu daratan hingga sejauh 600-700 meter dari pantai. Di sebelah timur Pulau Nusakambangan pesisir yang terkena gelombang laut akibat gempa mulai dari pesisir Congot (Gumilir), Lengkong (Mertasinga), dan Karangkandri yang terletak di sebelah barat S. Serayu. Di sebelah timur S. Serayu stunami terjadi di Bunton (Adipala) dan Binangun (Kroya). Tinggi gelombang berkisar antara 5-10 meter hingga sejauh 400-600 meter ke arah daratan.
Besarnya gelombang air laut yang membentur Pulau Nusakambangan, menyebab-kan perubahan arus di pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Akibat yang ditimbulkan hampir seluruh sarana dan prasarana pelabuhan menjadi hancur. Demikian halnya beberapa motor bout yang sedang tambat di pelabuhan.
Kejadian stunami di Cilacap dan sekitarnya, tampaknya telah menjadi perhatian semua pihak, khususnya yang peduli terhadap penyelamatan dan pelestarian Pulau Nusakambangan. Para pengarad (masyarakat nelayan) yang peduli terhadap keberadaan Pulau Nusakambangan karena mitosnya yang mampu melindungi daratan Kota Cilacap, menginginkan bahwa Pulau tersebut untuk tidak dimanfaatkan potensi kapurnya.
ASPEK DAN PROSPEK PENGEMBANGAN WISATA ALAM PULAU NUSAKAMBANGAN
Mencermati bahwa: (a) 95% kondisi formasi geologi Pulau Nusakambangan merupakan alluvium marine dengan batuan dasar tanah kapur, (b) 65% formasi hutan hujan tropis basah dataran rendah yang tersisa di Jawa Tengah, (c) maraknya ilegal logging sebagai faktor penyebab hancurnya formasi hutan, dan (d) tercatat 25% dari seluruh Pulau Nusakambangan memiliki potensi sebagai bahan tambang kapur.
Hasil penelusuran terhadap potensi dan peranan fungsi Pulau Nusakambangan, pada dasarnya memberikan infirasi dan gagasan untuk menyelamatkan, melestarikan dan memanfaatkan peranan fungsi jasa lingkungannya secara berkelanjutan, melalui tahapan penjangkaan waktu pembangunan. Gagasan tersebut paling tidak dibedakan menjadi 4 tatanan wisata alam, atas dasar peranan fungsi ekosistemnya.
(a). Penelusuran Landsekap. Kereta gantung di bangun dan berpusat di Teluk Penyu, membentang menuju ke Pulau Nusakambangan. Para pengunjung dapat menikmati keindahan alam bebas (lansekap), dengan sarana kereta gantung. Di bagian selatan pulau, dapat menyusuri pantai permisan, di bagian barat menyisir punggung gunung dengan fenomena alam hutan pamah.
Di sebelah utara menyu suri kawasan mangrove yang berbatasan dengan Laguna Segara Anakan sedangkan di sebelah timur dapat melihat dengan jelas pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Pemberdayaan sarana kereta gantung, kini menjadi urgen kedudu- kannya untuk direalisa-
sikan, karena telah saatnya bahwa rekreasi alam hutan untuk dapat dinikmati oleh semua pihak tanpa batasan jenis kelamin dan umur.
(b). Penelusuran Alam Tumbuhan. Para pengunjung dapat menelusuri seluruh ekosistem seperti hutan pamah, semak belukar, formasi pantai, guna memperoleh pengetahuan biologis dari jenis-jenis spesifik di Nusakambangan.
Untuk menarik para pengunjung, langkah awal yang dilakukan adalah membuat sarana peng- hubung (jembatan) yang menghubungkan antara lokasi penelusuran alam dan atau lokasi lainnya.
Wisata permainan pohon juga dapat dilakukan.
Para pengunjung dapat berjalan diantara pohon dan atau kanopi pohon, dengan sarana tali (slank) dan atau lainnya. Keuntungan rekreasi tersebut selain sebagai wahana ketrampilan dan kelincahan untuk melatih keberanian dan keseimbangan diri, juga mengenal dan menyatu dengan alam lingkungan pepohonan hutan.
(c). Penelusuran Goa Kapur
Alam Nusakambangan yang cukup menarik adalah goa-goa alam yang kini tercatat lebih dari 20 lokasi. Goa-goa yang terbentuk secara alami dihiasi dengan stalakmit dan stalaktit yang berbeda antara goa yang satu dengan lainnya. Dari beberapa goa yang dikenal oleh masyarakat nelayan antara lain: Goa Ratu, Putri, Masigitsela, Kalibanjar, Pantau, Lawa, Celeng, Ular, Merah, dan maria.
Pulau yang didominasi batuan dasar kapur, dengan gua-gua kapur aktif juga masih dijumpai beberapa jenis mamalia terbang (kelelawar, kampret dan codot). Beberapa jenis primata, mamalia, burung langka yang memerlukan perhatian sebagai kawasan Cagar Alam.
Potensi sejarah yang cukup menarik, selain pembinaan nara pidana juga dijumpai benteng kuno peninggalan Portugis dan Belanda.
Selain penelusuran-penelusuran alam seperti uraian di atas, wisata nelayan Segara Anakan juga merupakan bagian
dari aspek pengembangan Pulau Nusakambangan.
URAIAN PENUTUP
Suatu harapan melalui gagasan untuk memanfaatkan jasa lingkungan alam Pulau Nusakambangan, akan mampu memacu dan membangun paradigma bagi para pemangku kepentingan, keterkaitannya dengan makna ”save our Nusakambangan island”. Gagasan yang dirintis pada dasarnya merupakan niat kesungguhan putra daerah untuk mengembalikan peranan fungsi Pulau Nusakambangan sebagai benteng alam daratan kota Cilacap.
Untuk hal-hal penting yang segera ditindaklanjuti antara lain meliputi:
(1). Kajian akademik menjadi urgen untuk diperdayakan, mengingat selain mengungkap kelayakan teknis juga ekonomisnya.
(2). Pentingnya sosialisasi untuk menyamakan persepsi kepada semua pihak berke-pentingan (stakeholder), termasuk masyarakat.
(3). Optimalisasi pemanfaatan jasa lingkungan alam Nusakambangan, akan mampu memberikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tidak menyebabkan malapetaka terhadap alam itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Dahuri., Rokhmin; et al; 1996. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu.
PT. Pradnya Paramita Jakarta.
Hall., Colin Michael,. 1994. Tourism and Politics; Policy, Power and Place. John Wiley & Son; Chichester * New York * Brisbane * Toronto * Singapore.
Morrison,. Alison; Mike Rimmington and claire Williams., 1999. Enterpreneurship in the Hospitality, Tourism and Leisure Industries. Butterworth/Heinemann. Oxford Aucklan Boston Johannesburg Melbourne New Delhi.
Nowforth., Martin and Lan Munt. 1998. Tourism and Sustainability. New tourism in the Trird World.
British Library Cataloguing in Publication Data.
Page., Stephen J,. and Don Getz. (edt) 1997. The Business of Rural Tourism. International Perspectives. International Thomson Business Press. International Thomson Publishing Company.
Poon., Auliana,. 1998. Tourism Tecnology and Competitive Strategies. CAB International Publishing Wallingford Oxon OX 10 SDE UK.
Pusat studi Kelautan, Fak MIPA-UI, 2000. Strategi dan Aplikasi Pemberdayaan Sea Grand College Dalam Rangka Pengelolaan Sumberdaya Laut. Semiloka Kelautan Mei, 2000 Cilacap Jawa Tengah.
Sheldon., Pauline J; 1999. Tourism Information Tecnology. Profesor of Tourism School of Travel Industry Management University of Hawaii; USA.
Waryono., T, 1973. Studi Ekologi Permudaan Buatan Bruguiera gymnorhiza Lam Di Segara Anakan Cilacap. Skripsi Sarjana Muda Akademi Ilmu Kehutanan Bogor.
, 1998. Laporan Perjalanan Studi Banding Kawasan Mangrove Pantura Jawa barat. Dinas Kehutanan DKI Jakarta.
, 2000. Laporan Semiloka Kelautan Cilacap Jawa tengah.
, 2000. Laporan Perjalanan Ke Kawasan Mangrove Segara Anakan dan Pulau Nusakambangan, Cilacap (Diskusi Panel Baruna-IV).
Woodhead., Terence, 2000. Strategic Plan : Conservation of Biodiversity Segara Anakan and Nusakambangan, Cilacap.


0 Komentar