Oleh: Tarsoen Waryono **)
Hasanah Makna Teluk Penyu
Teluk Penyu Cilacap yang membentang dari pantai Cilacap, Gumilir, Winong, Bleberan, Sodong, Widara Payung hingga Jetis, tampaknya bukan asal nama Teluk di pantai selatan Cilacap, akan tetapi nama tersebut memiliki makna sebagai habitat (tempat hidup) alami bagi hidupan liar Penyu jenis Lekang (Lepidochelys olivacea). Akibat penambangan pasir besi tahun 1970-an, habitat-habitat tersebut telah terganggu dan hanya ditemukan di beberapa lokasi yang masih utuh (alami), yaitu di pantai Sodong (Kec. Adipala) hingga pantai Widara Payung (Kec. Binangun Kroya), dimana lokasi tersebut merupakan tempat bertelur bagi Penyu Lekang.
Jumawan adalah salah seorang putra daerah asal Desa Karang Benda Sodong, Kecamatan Adipala, tergugah untuk melestarikan penyu sejak beberapa tahun silam.
Tepatnya pada akhir tahun 2017 hingga pertengahan bulan Pebruari 2028, terkesima dengan informasi baik dari masyarakat maupun para nelayan, yang bawasannya sering ditemukan bangkai penyu dan ditemukan telur penyu segar di pantai Sodong. Pada bulan Pebruari tanggal 11 tahun 2018, beliau melihat dengan mata kepala sendiri, ditemukannya bangkai penyu di pantai Sodong.
Setelah berbincang dengan nelayan, ternyata penyu yang mati tersangkut jaring dan dibuang di pantai. Empat bulan beri- kutnya, tanggal 26 Juni 2018 menemukan penyu yang sedang bertelur di pantai Sodong dan menjadi tontonan para pengun- jung pantai. Telur-telur tersebut setelah beberapa minggu, lahir secara alami dan langsung berjalan menuju ke laut.
Selain menemukan lahirnya tukik (anak penyu), juga menemukan telur penyu yang tercecer di pantai Sodong. Saat itulah sang pengasuh tukik (Jumawan) belum ada pengalaman untuk menetaskan dan melestarikannya. Setelah berkonsultasi dengan rekan nelayan, perangkat desa dan atas bimbingan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Cilacap dan BKSDA Provinsi Jawa Tengah, baru mulai memahami dan mulai bergerak untuk membudidayakan telur penyu yang ditemukan baik oleh Tim pengasuh maupun masyarakat awam.
Kegiatan rutin yang dilakukan, selain survey lapang (patroli) setiap malam, juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat awam, yang sering mencari telur penyu di pantai. Mereka masyarakat secara diam-diam sering menjual telur penyu secara on line, dengan harga Rp 4.000,-/butir telur. Patroli dilakukan setiap malam, akan tetapi setelah satu tahun berjalan diperoleh informasi bahwa telur penyu banyak ditemukan pada setiap bulan Juni hingga bulan Agustus. Sang pengasuh tukik (Jimbawan) mengajak masyarakat untuk melestarikan penyu Lengkang, karena penyu tersebut merupakan sisa-sisa penghuni pantai selatan Cilacap yang habitatnya telah terganggu.
Selain mengajak untuk melestarikan, juga menghimbau bahwa penyela- matan penyu merupakan ibadah kepada alam, sehingga terhindar dari kepunahan ragam hayati biota laut, serta melestarikan dunia fauna penyu untuk pengetahuan anak cucu bangsa secara berkelanjutan. Hal yang cukup penting menjadi perhatian, masya- rakat harus menyadari bahwa lokasi (habitat) tempat bertelur harus bersih dari sampah, pepohonan yang ada untuk tidak diganggu. Dengan kondisi yang menyerupai aslinya, maka penyu Lekang akan bertelur di habitatnya.
Kiat Melestarikan Penyu
Pada saat menjelang bulan Agustus 2018, sang pengasuh tukik (Jumawan) mulai melakukan aktivitas pelestarian penyu secara efektif. Dimana hasil penangkaran tukik di pantai Sodong pada dasarnya merupakan hasil relokasi sarang serta penyelamatan telur yang diserahkan masyarakat kepada Kelompok Konservasi Penyu (KKP) Nagaraja Sodong, Cilacap atas binaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah. Telur-telur penyu yang diserahkan oleh masyarakat, untuk selanjutnya ditukar dengan sembakau sebagai konpensasinya. Dimana dana untuk pembelian sembako merupakan himpunan dana sum- bangan masyarakat murni yang berkunjung ke lokasi penangkaran.
Kegiatan penetasan telur dilakukan dengan (1) media pasir laut. Telur penyu dibenamkan pada pasir dengan kedalaman 25-30 cm dan diberi penghangat lampu listrik 5-10 watt. Pasir diambil dari pesisir tanpa dibersikan sebelumnya. (2) Setelah 40-50 hari, telur penyu mulai menetas (tukik) pada sat itulah perlu bantuan manual untuk mengeluarkan dari cangkang telur. Langkah berikutnya, tukik yang baru lahir di tempatkan pada penampungan sementara (ember plastik) selama 1-2 jam. Hasil tukik pengkaran hingga pertengahan tahun 2021 tercatat 585 ekor.
Setelah di alamkan 1-2 jam, kemudian (3) dipindahkan ke kiembak (bak plastik) ukuran 1 x 3 meter. Melalui pendekatan rekayasa teknologi penetasan telur penyu yang dilakukan, ternyata hasil tukik yang menetas tercatat cukup baik yaitu 98%. Mortalitas terjadi karena gangguan pasir (media) yang kurang mendapatkan perawatan /kontrol. Tukik yang telah berumur lebih dari 40 hari, pada dasarnya telah siap untuk dilepas-liarkan ke laut bebas.
Pelepasliarkan tukik ke alam laut bebas, dilakukan secara berangsur-angsur, mengikuti prosedur pelepasan atas binaan BKSDA Provinsi Jawa Tengah. Pelepasan terakhit dilakukan pada tanggal 23 Agustus 2021, yang diprakarsai oleh BKSDA dan PT. Pertamina (Persero) Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Maos Cilacap. Jumlah tukik yang dilepaskan sebanyak 206 ekor tukik Lekang (Lepidochlys olivacea). di Pantai Sodong Cilacap, Jawa Tengah. Dalam pelepasan tersebut, juga mengikuti prosedur dan memenuhi prinsip- prinsip kesejahteraan satwa (animal welfare) dengan menerapkan protokol kesehatan di masa pandemi sesuai Surat Edaran Direktur Jenderal KSDAE Nomor SE.8/KSDAE/KKH/KSA/2/5/2020 tentang Petunjuk Teknis Pelepasliaran Satwa Liar di Masa Pandemi Covid-19.
Prakarsa penangkaran tukik yang dilakukan di Sodong Nagaraja, pada dasarnya meru- pakan implementasi dari Perjanjian Kerjasama antara BKSDA Jawa Tengah dengan PT. Pertamina (TBBM) Maos Nomor PKS.04/K.21/TU/REN/02/2020 tanggal 12 Februari 2020, tentang Penguatan Fungsi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Melalui Penyelamatan Satwa Liar Dilindungi (Penyu, Trenggiling dan Bubut Jawa), dalam rangka mendukung Pengelolaan Kawasan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Penyangga Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Selok, Cilacap.
Selain pelepasanliar tukik lekang pada bulan Agustus juga dilakukan pelepasan pada bulan berikutnya (23 September 2021) di TPI Kemiren Kelurahan Tegalkamulyan Cilacap Selatan, bertepatan dengan kunjungan Presiden RI (Jokowi) saat penanaman mangrove di Desa Tritih.
Jumlah tukik jenis Lekang yang di lepas ke laut bebas sebanyak 1.500 ekor yang bersumber dari Penangkaran Sodong Nagaraja, Penangkaran Kebumen, Jogjakarta, Sukamande dan Alas Purwo. Presiden dalam pidatonya menyampaikan kegembiraannya bahwa masyarakat telah sadar terhadap pelestarian penyu yang hampir langka dan punah.
Urgensi pelestarian penyu di pantai Sodong, karena penyu merupakan salah satu fauna yang dilindungi dan populasinya terancam punah. Reptil laut ini mampu bermigrasi dalam jarak yang sangat jauh di sepanjang kawasan Samudera Hindia, Samudera Pasifik, dan Asia Tenggara. Di dunia ada 7 jenis penyu dan 6 diantaranya terdapat di Indonesia, dan salah satu jenis lekang (Lepidochelys olivacea) merupakan jenis penghuni di pantai Sodong-Widara Payung Kabupaten Cilacap.
Kegiatan konservasi merupakan salah satu cara untuk menjaga kelestarian habitat penyu, untuk itu memacu kesadaran masyarakat sekitar habitat menjadi strategis kedudukannya, karena untuk tujuan pemulihan (restorasi) dan perlindungan bahkan pelestarian terhadap penyu yang hampir langka bahkan punah akibat predator maupun tangan-tangan jahil manusia. Di sisi lain dengan konservasi penyu, merupakan salah satu kegiatan yang sangat diharapkan dapat mencegah punahnya penyu dan habitatnya.
Melalui kegigihan sang pengasuh tukik di pantai Sodong, kini sebagian masyarakat di Desa Karang Benda telah memiliki kesadaran lebih untuk melestarikan dan menjaga habitat penyu, sebagai bukti nyata peran masyarakat adalah terbentuknya kelompok masyarakat yang ikut menjaga dan memelihara telur-telur penyu yang ditemukan oleh warga sekitar.
Suatu harapan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Cilacap, melalui Dinas Kelautan dan Perikanan dapat membantu kesulitan penangkar tukik, terutama dalam hal sosialisasi kesadaran masyarakat maupun publikasi kegiatannya (TW. Red).
*). Kunjungan kegiatan penangkaran tukik di Sodong Nagaraja Desa Karang Benda .
**). Pengamat Lingkungan dan Staf Pengajar FMIPA Universitas Indonesia


0 Komentar